ShabbyDesain

Rabu, 09 September 2015

Perekonomian Jawa Barat

Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.

PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp.231.764 miliar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp. 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).

Perekonomian Jawa Barat melambat cukup dalam pada triwulan I 2015 pada level 4,93% (yoy). Perlambatan pertumbuhan terjadi hampir pada seluruh komponen penggunaan seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit, investasi serta ekspor dan impor. Konsumsi rumah tangga terpantau melambat namun masih dalam kondisi yang cukup kuat. Di sisi lain, melambatnya ekspor produk manufaktur di tengah pemulihan ekonomi negara maju yang relatif lamban terpantau menjadi salah satu faktor utama perlambatan kinerja perekonomian Jawa Barat pada triwulan laporan.

Dari sisi sektoral, kinerja sektor utama Jawa Barat melambat pada triwulan I 2015 khususnya pada sektor perdagangan besar dan eceran. Sektor perdagangan besar dan eceran tercatat mengalami perlambatan. Sementara itu, melambatnya kinerja ekspor pada triwulan ini juga turut mendorong sektor industri pengolahan mengalami sedikit perlambatan pada triwulan laporan. Di sisi lain, meskipun masa panen padi di sentra pertanian Jawa Barat mundur ke triwulan II 2015, namun pada akhir triwulan I 2015terpantau sudah masuk masa panen sehingga kinerja sektor tersebut meningkat khususnya yang bersumber dari tanaman bahan makanan (tabama) dan menjadi penahan laju perlambatan yang lebih dalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar